Editor's Note: Artikel ini ditulis oleh Sidiq Permana, yang merupakan CIO di Nusantara Beta. Tulisan ini merupakan opini pribadinya yang masih belajar mengembangkan sebuah produk dengan pendekatan yang menurutnya tepat untuk startup.
Mengembangkan sebuah produk kreatif berbasis digital bukanlah sesuatu yang sulit saat ini, terlebih sudah banyaknya source untuk belajar, tools, referensi dari beragam teknologi yang sudah membajiri jagat Internet, dan tentunya sangat mudah dipelajari :D. Mengembangkan produk saat ini seperti bermain puzzle menurut saya. Kenapa puzzle? ya saat ini kita cukup merangkai setiap komponen yang berasal dari potongan-potongan kode yang mungkin sudah ada menjadi sebuah produk aplikasi yang baru dan hanya terus memfokuskan pada bisnis proses yang ada. Mungkin lebih tepatnya Don't reinvent the wheel [but needs a fit adjustment] or you are too lazy to write them again. Menggunakan dari yang sudah ada tidak salah selama kita mengerti bagaimana menyesuaikan dengan kebutuhan dan bisa melakukan optimasi yang diperlukan. Bridgestone doesn't create the wheel to be square, right? They just optimize it to spin better :D
Ketika mengembangkan sebuah produk, yang ada dipikiran kita adalah bagaimana mewujudkan ide-ide yang ada di kepala, ya ide-ide yang menurut kita brillian, sempurna, solutif dan dibutuhkan banyak orang. Well, tidak sepenuhnya salah, semangat kita mengembangkan produk berdasarkan apa yang kita yakini mengalahkan segalanya, yang terpenting produk jadi, cepat rilis dan tanpa berpikir produk itu ada yang gunain atau tidak. Terlebih jika kita yang berlatar belakang teknis mungkin hal ini menjadi lumrah, ya lumrah ketika kita mencari-cari masalah yang relevan setelah solusi dalam produk kita jadi dan bukan sebaliknya. Tidak sepenuhnya salah sih, namun tentu akan lebih baik jika semua effort yang telah kita keluarkan memang benar-benar menjadi produk yang dibutuhkan oleh pasar terlebih mampu menghasilkan benefit yang sepadan untuk kita atau bahkan jika kita ingin produk tersebut menjadi tumpuan berjalannya startup yang kita bangun. Dapur kan harus ngebul juga gan hehhehe
Tak mau membahas tentang startup secara mendetil kali ini, namun saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dave McClure, yaitu:
Startup berbasis teknologi adalah sebuah perusahaan rintisan yang masih bingung tentang produknya apa, siapa customernya dan bagaimana menghasilkan uang.
Siapapun bisa membangun startup terutama dibidang teknologi. Modal yang dibangun tidaklah besar jika dibandingkan dengan bisnis konvensional pada umumnya, cukup ruangan ber-internet, laptop, server dan beberapa orang resource yang idealnya terdiri dari Hacker (orang yang ahli coding), Hipster (orang yang ahli desain, termasuk user interface dan user experience), dan Hustler (orang yang akan menghasilkan uang dari bisnis atau marketing).
Contohnya Hacker, Hustler dan Hipster.
Umumnya startup harus punya ini + Storyteller / Currator
Silicon Valley menjadi kiblat bagi siapa saja yang mau membangun startup dan melihat orang sukses di Industri digital dengan persentasi keberhasilan sebesar 5% di tahun ke 10. Apa yang saya pelajari dan alami tentang membangun startup tidaklah sebatas membangun sebuah produk yang keren namun lebih dari itu. Kita berbicara bagaimana mengembangkan sebuah produk, membungkusnya dengan kemasan yang bagus dan membrandingnya agar lebih siap dan berkompetisi di pasar. Dan itulah tantangannya, sebaik-baiknya startup adalah yang akan hanya fokus pada pengembangan produk dengan beragam prosesnya dan tidak membagi diri untuk menjahit produk untuk orang lain.
Ide? Setiap orang punya ide, ide itu murah. Saya yakin masing-masing dari kita memiliki ide kreatif untuk ditransformasikan menjadi solusi yang dibungkus menjadi produk yang mampu menjawab permasalahan yang ada. Ide sangatlah mudah didapatkan, bukan sesuatu yang mahal ataupun sulit. Ide yang sama belum tentu realisasinya akan sama pula. Menurut saya Ide yang baik adalah ide yang lahir berdasarkan permasalahan yang tervalidasi dan menimbulkan efek seperti parasetamol yang menyembuhkan sakit kepala. Silakan tonton bagaimana marrisa mayer berbicara tentang ide
Saya mengamini sebuah frase yang selalu diucapkan oleh rekan saya Sindhu Prabowo mengenai sebuah produk yang semestinya dibangun oleh startup, 'Produk mu punya dua pilihan : akan menjadi sebuah pain killer atau vitamin' ya pain killer yang akan menyembuhkan penyakit dan menimbulkan banyak repetisi pemakaian dengan frekuensi yang meningkat atau menjadi sebuah vitamin yang hanya bersifat nice to have. Jika kita memilih nasib produk kita menjadi pilihan yang pertama maka jalan yang ditempuh akan lumayan melelahkan namun ketika produk itu berhasil di pasar, mungkin kita akan bisa bersanding dengan Facebook, Path, Google atau Twitter, amiinn.
Lalu apa yang harus kita pelajari dan yang harus kita ketahui agar membuat produk kita sukses? Akan ada banyak pendekatan yang menurut saya tepat bagi siapa saja yang mau mengembangkan produk terlebih untuk startup. Ini pandangan pribadi saya, yang pertama kali saya lakukan adalah menjauhkan diri saya akan pemikiran saya mengenai ide solusi, saya memfokuskan diri pada siapa calon customer kita atau tepatnya siapa orang yang memiliki masalah yang coba kita selesaikan. Saya akan memposisikan diri untuk terus menggali dan memvalidasi masalah-masalah yang akan saya selesaikan dan bukan pada solusi yang akan saya tawarkan. People doesn't care about how damn good your product or your solution is, they only care about their problem. Untuk apa mengembangkan sebuah produk dengan effort yang cukup besar, teknologi yang mutakhir, modal yang besar, dan tim yang luar biasa hebat jika berujung produk yang dikembangkan tidak berhasil di pasar bahkan tidak laku sama sekali, semua investasi yang dilakukan akan menjadi sia-sia (may be ). Sudah banyak contohnya kok jika kita bertanya koq bisa ini terjadi?, dan saya mengalami itu.
Saya belajar Lean Startup Machine (LSM) melalui workshop dan membaca bukunya. Disana saya mempelajari banyak hal ideal yang bisa diterapkan bagi startup dalam membangun sebuah produk. Inti dari apa yang saya pelajari mengenai LSM adalah tentang validasi masalah, semakin kita dalam memvalidasi masalah yang ada maka akan semakin mudah kita mendapatkan ide solusi yang tepat dan mendeliver produk yang tentunya lebih solutif. Jauhkan asumsi dalam pengembangan produk sebelum kita memvalidasi asumsi-asumsi tersebut. Jangan sok tahu suatu fitur akan berguna jika kita tidak benar-benar melakukan validasi dan meriset ke lapangan.
Lakukan Iterasi Learn – Build – Meassure secara terus menerus. Itu yang saya pelajari. Ketika kita berhasil mendapatkan masalah yang benar-benar tervalidasi secara objektif saya yakin seketika kita akan mendapatkan calon pengguna produk kita. Sudah jelas masalahnya dan sudah jelas siapa customernya!! Semakin cepat kita gagal semakin cepat kita sukses. Fail Fast Success Faster !!! Bukan begitu #eh
Mungkin kutipan dari rekan saya Fri dari comma akan tepat,
"Walaupun kamu merasa idemu adalah ide yang paling cemerlang, sehebat apapun ide itu tidak akan berhasil kalau ternyata penggunamu tidak berpikiran sama. Yang paling penting adalah apa yang penggunamu pikirkan. Apakah sama dengan yang kamu pikirkan atau ternyata justru 180º berkebalikan? Ini sangat menentukan kesuksesan produkmu"
Silakan baca tulisan lengkapnya tentang pengalaman workshop Lean startup machine disini
Setelah kita sudah tahu masalahnya dan siapa calon customer, seharusnya semangat kita membangun produk akan bertambah bukan? Ya kita tidak akan melakukan investasi yang sia-sia pada tahap development nanti. Eitt.. sebelum itu lebih baik kita membuat perencanaan bisnis yang akan menjadi acuan kita dalam memasarkan produk kita nantinya, pelajari bagaimana penggunaan Canvas Business Model -nya Alexander Osterwalder, dan mulailah belajar membuat Business Plan. Setelah kita mampu menjawab 9 blok yang ada pada canvas diagram serta mampu membuat proyeksi bisnis kita, saya yakin tahap development akan menjadi tahap yang dinanti.. yeaahh
Yapp kita sudah masuk tahap development, mengembangkan sebuah produk adalah tahap yang menyenangkan buat saya, output dari tahap ini sebetulnya tidak perlu muluk-muluk, cukup jadi Minimum Viable Product (MVP) yang siap dirilis demi memvalidasi ide yang kita realisasikan. Ini bagus sebagai tahapan kita untuk tetap belajar dalam tahapan proses iterasi Lean Startup Machine yang disebutkan sebelumnya. Saya mempelajari bagaimana Google Venture membina para startup 'asuhannya' untuk bisa membuat produk yang sukses, pendekatan itu bernama Product Design Sprint, pendekatan ini merupakan pendekatan pengembangan cepat selama 5 hari yang outputnya akan menjadi acuan pengembangan teknis yang lebih serius nantinya. Pendekatan ini memerlukan partisipasi aktif dari setiap elemen yang akan terlibat, designer, developer, marketing, business development, owner dll. Silakan pelajari lebih dalam bagaimana serunya dan bermanfaatnya pendekatan ini.
Setelah mendapatkan calon pengguna, masalah, solusi, model bisnis dan acuan pengembangan yang ada sekarang tahap yang lebih serius adalah melakukan pengembangan Minimum Viable Product (MVP) dari solusi yang akan kita tawarkan. MVP bisa berbentuk prototype, setidaknya sudah ada yang bisa kita deliver secara cepat ke pasar, mulailah dari solusi apa yang mau kita tawarkan dan berpikir realistis. Jika kita punya 10 solusi dalam 10 fitur yang ada akan lebih bijaksana dan baik jika kita mampu memilah mana fitur yang memiliki potensi, dibutuhkan dan memiliki nilai urgensi yang tinggi. Pilihlah 3-4 fitur sebagai langkah awal.
Lakukan pendekatan pengembangan dengan metode yang tepat, saya menyukai Scrum Agile dibandingkan denganWaterfall yang menurut saya sudah ketinggalan jaman heheehe . Dengan pendekatan scrum development dapat lebih terukur dan produk yang dihasilkan umumnya lebih berkualitas. Saya menyukai setiap proses sprint (design, build, and testing) yang dilakukan dan konon hampir semua startup di silicon valley menggunakan pendekatan ini. Satu lagi jangan lupa gunakan software project management yang sesuai dengan kebutuhan dan yang disepakati oleh tim, ada beberapa yang bagus seperti trello, asana dan redmine.
Dan setelah melalui proses yang cukup panjang, saatnya riliskan produkmu,, yeayyy #eh , targetkan rilis produkmu kepada customer yang kamu targetkan sebelumnya, start from small kalau bisa kita harus punya calon early adoptersebelum kita rilis produknya. Lakukan bertahap seperti apa yang facebook contohkan kepada kita :D. Setelah rilis nanti kita akan belajar lebih banyak lagi .. trust me.. it works .. #eh
Seharusnya apa yang saya sampaikan diatas mampu memberikan gambaran yang ideal untuk kita dalam mengembangkan produk yang memiliki prospek yang baik dan berpotensi sukses yang lebih besar. Mengembangkan produk hanya sebagai bagian ujung dari sebuah rangkaian membangun solusi yang nantinya akan dibungkus dengan strategi bisnis dan marketing yang pas agar produk bisa berhasil di pasar, proses iterasi harus tetap berjalan dan setidaknya bisa sustain atau bahkan bisa membuat bisnis kiat lebih berkembang pesat. Tidak ada salahnya kita meluangkan waktu untuk membaca, belajar dan mempraktekan semua referensi diatas. Learning by doing is the greatest way, isnt it?.
Kesimpulan
- Saya mempelajari Lean Startup Machine untuk tau masalah yang akan diangkat dan mem-validasinya sehingga menghasilkan ide/solusi yang tepat guna dan siapa calon customer kita
- Saya mempelajari Product Design Sprint agar saya dan tim memiliki kesamaan pemikiran mengenai apa yang mau dikembakan
- Saya mempelajari Canvas Business Model dan membuat Business Plan agar saya dapat memahami model bisnis yang tepat untuk produk saya dan membuat acuan dalam menjalankan bisnis dari produk yang sedang dikembangkan
- Saya mempelajari scrum agile agar saya dan tim dapat mengembangkan produk yang progressnya terukur dan berkualitas secara teknis
Kita mememiliki kesempatan yang sama, jika sebagian dari kita sudah bisa sukses dengan produknya, maka saat ini waktunya kita menyusul mereka bahkan melampaui mereka.
Tetap sabar dan semangat dalam perdjoangan!!!
Baca Juga:
Kenapa Entrepreneur Harus Fokus Dalam Membangun Hanya Satu Produk
Bagaimana Menerapkan Bisnis Model Freemium Agar Bisa Diterima Pasar
sumber : Apa Yang Saya Pelajari Dalam Mengembangkan Suatu Produk Digital Oleh @Nouvrizky10
Baca selengkapnya di --> Apa Yang Saya Pelajari Dalam Mengembangkan Suatu Produk Digital Oleh @Nouvrizky10
Share Artikel ini! »»
|
|
|
Tweet |
0 comments:
Post a Comment