Wednesday, 2 July 2014







Bisnis makanan bisa dikatakan sebagai bisnis yang tidak pernah akan
mati. Ini karena setiap orang pasti membutuhkan makan untuk dapat
bertahan hidup. Konsep inilah yang dipegang oleh Melby Sakina Baradja,
pemilik usaha burger, Aussy Burger. Usaha yang dimulainya sejak tahun
2005, kita telah berkembang pesat hingga mempunyai puluhan outlet yang
tersebar diseluruh Indonesia.



Awalnya, Melby mengaku ketika masih duduk dibangku SMA, dia dan
kakaknya membuka usaha burger ini hanya iseng-iseng saja. Berbekal
pengalaman sang kakak saat bekerja diperusahaan burger diluar negeri,
membuat dirinya nekat untuk membuka usaha burger tersebut dengan
bermodalkan uang sekitar Rp 10 juta-Rp 12 juta dan menggunakan lahan
seluas tempatnya 2×2 meter yang letaknya tidak jauh dari rumah dikawasan
Bintaro, Jakarta Selatan.



“Waktu itu saya buka kecil-kecilan enggak jauh dari rumah, masaknya
juga dirumah, jadi begitu ada yang pesan, langsung telepon kerumah,
di-grill dirumah, karena jaraknya jg dekat,” ujarnya dikutip dari
Liputan6.com.



Alasannya memilih usaha burger, karena jenis makanan tersebut
mencakup dua pangsa pasar, pertama bisa menjadi makanan berat karena
ukurannya besar. Dan kedua, makanan tersebut bisa dikatakan sebagai siap
saji itu sehingga bisa dikonsumsi dimana pun dan kapan pun.



“Bisa dimakan sambil nyetir mobil atau sambil jalan,” lanjutnya.



Seiring dengan berjalannya waktu, usaha burger miliknya semakin lama
semakin berkembang. Kemudian pada tahun keenam atau pada akhir 2011 dia
mulai menjadikan usahanya ini sebagai bisnis waralaba. Outlet Aussy
Burger yang awalnya hanya berada di sekitar Jabodetabek, kini telah
tersebar di beberapa wilayah di Indonesia seperti Jambi, Pekanbaru,
Makassar dan Nusa Tenggara Barat dengan jumlah tidak kurang dari 70
outlet.



“Target market kita lebih kepada anak sekolah, mahasiswa dan keluarga
muda, makanya kita letakan outlet di dekat sekolah, kampus, dan
perumahan,” jelasnya.



Besar omset dari masing-masing outlet Aussy Burger ini pun terbilang
cukup besar. Menurutnya omzet dalam sehari untuk outlet ukuran booth
sebesar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Sedang untuk ukuran kafe bisa
mencapai Rp 1,5 juta hingga Rp 6 juta per hari.



Sedangkan dari sisi penjualan produk, outlet ukuran booth biasanya
bisa menjual antara 30-40 burger per hari, sedang ukuran kafe bisa
menjual 60-80 burger per hari.



Untuk kepemilikan outlet ukuran booth, Melby menawarkan bisnis
waralaba burgernya ini dengan harga Rp 50 juta yang sudah dilengkapi
dengan bahan baku dan peralatan. Sedang ukuran kafe ditawarkan dengan
harga Rp 175 juta termasuk peralatan, furniture, dekorasi indoor dan
outdoor, kitchen set, tv dan wifi dengan jangka waktu kerjasama selama 5
tahun.



“Yang harus dicari franchisor hanya lokasi dan karyawan. Kalau pun
mereka kesulitan, kita bisa bantu carikan lokasi dan karyawan, semuanya
kita yang training dan kita dampingi sampai outletnya berjalan,” ungkap
wanita kelahiran 16 September 1989 ini.



Dari segi bahan baku utama, seperti daging, Melby mendatangkan
langsung daging tersebut dari Australia dan New Zealand dengan kualitas
daging yang bagus, kemudian diracik dengan resep menggunakan
rempah-rempah khas Indonesia.



Meskipun saat ini telah mengalami perkembangan yang pesat, namun
dalam menjalankan bisnisnya, Melby mengaku banyak kendala yang harus
dihadapi. Pada masa awal berbisnis, dirinya mengaku sering mendapatkan
keluhan dari pelanggan karena saat itu burger yang dijualnya belum
memiliki standar baku soal rasa dan ukuran. Namun belajar dari komplain
tersebut, akhirnya kendala seperti itu hilang dengan sendiri. (bn)




Powered By WizardRSS.com | Full Text RSS Feed | Amazon Wordpress | rfid blocking wallet sleeves


sumber : Bisnis Burger Australia Janjikan Omzet Rp 1 Juta per Hari

Baca selengkapnya di --> Bisnis Burger Australia Janjikan Omzet Rp 1 Juta per Hari



Share Artikel ini! »»

0 comments:

Post a Comment