Sunday, 15 June 2014







Yogyakarta punya Dagadu. Bali punya Joger. Palangkaraya punya
Saverock, sebuah merek kaus bermotif Dayak khas Kalimantan Tengah.
Demikian impian Kilat Kasanang (34) yang berkreasi dan menciptakan
bisnis distro kaus sekaligus melestarikan motif suku Dayak.



Impian itu perlahan lahir dan terwujud dari kebersamaannya dengan
rekan-rekan satu band, Staccato. Band itu terdiri dari Kilat (gitar I),
Benny (gitar II), Kevin (bas), Ryan (drum), Chris/Ryo (keyboard), dan
Rizky (vokal). Tahun 2009, Kilat ingin mempromosikan bandnya melalui
cendera mata berupa kaus bertajuk Staccato. Karena tidak memiliki
pengalaman dalam hal memproduksi kaus, khususnya menyablon, para
personel Staccato kemudian merangkul Ari, kawan Kilat yang pernah
bekerja di tempat penyablonan.



”Dengan modal Rp 3 jutaan, kami mengajak Ari yang pernah menyablon
kaus-kaus kampanye partai untuk membuat kaus band dan mengajari kami,”
kata Kilat.



Modal itu mereka belanjakan 10 lusin kaus polos, beberapa cetakan
sablon, dan sejumlah tinta khusus sablon. Dua lusin kaus polos mereka
gunakan untuk uji coba menyablon tulisan-tulisan seputar band Staccato,
grup band yang beraliran rock romantis. ”Ternyata kualitas sablon kami
tidak bagus. Warnanya tidak tajam, gambarnya pun luntur dan kotor,” ujar
Kilat yang kemudian membagi-bagikan kaus Staccato itu.



Kilat dan teman-temannya tidak patah semangat. Mereka justru
tertantang ingin menghasilkan kaus yang berkualitas baik, lebih menjual,
dan digemari masyarakat. ”Selama enam bulan kami bereksperimen dan
kemudian membuat delapan lusin kaus yang lain untuk disablon dengan
tulisan-tulisan humor berbahasa Dayak,” ucap lulusan Akademi Manajemen
Informatika Komputer Palangkaraya tahun 2001 itu.



Setelah kualitas sablonannya membaik, mereka pun memasarkan kaus-kaus
itu lewat kios sewaan berukuran 2 meter x 2 meter di Mal Palangkaraya
pada tahun 2010. Salah satu desain kata-kata humor yang juga
dipelesetkan itu adalah ”How can and ikau are do it?” yang berarti ’Hai
keponakan apakah kau punya banyak uang?’.



”Kami menjual di mal dengan harga Rp 60.000 per kaus. Setiap bulan,
kami dapat menjual sekitar 250 kaus dengan total pemasukan Rp 15 juta.
Setelah dipotong biaya produksi, sewa tempat, dan upah dua karyawan,
laba bersih yang didapat mencapai Rp 3 juta,” kata Kilat.



Namun, karena laba bersih itu harus dibagi-bagi, satu per satu anggota band dan juga Ari meninggalkan usaha penyablonan itu.



Meskipun Kilat seorang diri, suami Dona Tutuasi (34) itu tetap teguh
mempertahankan usahanya. Kilat kemudian memberi merek Saverock untuk
kaus produksinya. Nama itu berasal dari nama putra sulungnya yang
bernama Savero Stratocaster (11).



Dia pun mencermati, desain kata-kata humor khas Dayak ternyata hanya
dipahami masyarakat setempat. Dari situ, Kilat kemudian mengembangkan
kaus bermotif Dayak, antara lain motif mandau, tameng, tombak, dan
balanga. ”Motif-motif saya kembangkan sesuai kekhasan Kalimantan Tengah,
yaitu motif yang beralur setengah lingkaran. Motif itu berbeda dengan
motif Kalimantan Timur yang alurnya satu lingkaran penuh,” kata Kilat
yang melalui terobosannya itu dapat meningkatkan penjualan sebanyak 20
persen per bulan.



Melalui kaus motif Dayak khas Kalimantan Tengah itu, Kilat ingin
melestarikan motif-motif Dayak dan mengenalkan hasil seni budaya kepada
masyarakat Indonesia. ”Motif Dayak merupakan salah satu kekayaan tradisi
budaya kita. Ini juga warisan bangsa yang harus dijaga,” ucap Kilat
yang pada tahun 2012 telah mampu merakit mesin sablon rotary (berputar)
dengan modal Rp 6 juta untuk menambah kualitas sablon.





Dengan dibantu dua karyawan yang dibayar Rp 1,2 juta per bulan, Kilat
membuka gerai berukuran 2,5 meter x 6 meter di rumahnya di Jalan Garuda
VI Nomor 09, Palangkaraya. Kedua karyawan itu membantu Kilat dalam
penyablonan, pengepakan, dan pendistribusian. Selain di rumah, Kilat
juga memasarkan kausnya di Toko Cendera Mata Martapura di Jalan Batam,
Palangkaraya; Gallery Tjilik Riwut di Jalan Jenderal Sudirman,
Palangkaraya; dan di Bandar Udara Tjilik Riwut, Palangkaraya.



Adapun bahan baku kaus katun polos itu didatangkan dari Jakarta.
Kini, kaus Saverock yang memiliki sekitar 50 desain motif Dayak dijual
dengan harga Rp 90.000-Rp 95.000 per kaus dan dalam sebulan Kilat dapat
meraih laba bersih sekitar Rp 6 juta. Karena menerapkan sistem distro
atau produksi terbatas, setiap desain diproduksi paling banyak 24 kaus.



Kilat mengakui, ada kesulitan untuk menambah jumlah produksi karena
kaus yang laku terjual dalam sebulan paling banyak 300 kaus. ”Saya lihat
jumlah wisatawan yang berkunjung ke Palangkaraya hanya sedikit. Kota
ini masih sepi dari wisatawan. Saya berharap pemerintah dapat lebih
menggencarkan promosi Palangkaraya untuk menarik wisatawan sehingga
Saverock sungguh dapat menjadi milik Palangkaraya dan motif Dayak makin
dikenal,” kata Kilat yang juga mengembangkan Toko Alat Musik Saverock.
(bn/suarapengusaha.com)




Powered By WizardRSS.com | Full Text RSS Feed | Amazon Wordpress | rfid blocking wallet sleeves


sumber : Ada Peluang Besar Dari Bisnis Kaos Motif Dayak

Baca selengkapnya di --> Ada Peluang Besar Dari Bisnis Kaos Motif Dayak



Share Artikel ini! »»

0 comments:

Post a Comment