Saturday, 14 June 2014

hhhh
Bila dalam dunia kesehatan dikenal istilah herbal, dalam dunia energy dikenal istilah bahan bakar hayati atau biofuel. Biofuel mulai dikenal sejak stok bahan bakar yang berasal dari non hayati mulai mengalami penurunan drastis. Bahan bakar ini dianggap sebagai solusi dari sumber daya alam non hayati yang sulit diperbaharui karena jumklahnya saat ini sangatlah banyak dan seringkali tidak dimanfaatkan secara optimal. Banyak yang belum kenal dengan aneka macam energy biofuel sehingga seringkali belum mau memanfaatkannya secara maksimal. Padahal bila biofuel terus dikembangkan, sangat mungkin krisis energy yang melanda sebagian besar wilayah bumi bisa teratasi.
BIOFUEL SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF
Biofuel atau bahan bakar hayati berasal dari bahan-bahan organic yang berwujud gas, cair dan padat. Kebanyakan biofuel bisa dihasilkan oleh tanaman, namun secara tidak langsung limbah industry, komersial, domestic, atau pertanian juga bisa menghasilkan biofuel. Biofuel memiliki keunggulan dibandingkan dengan bahan bakar fosil karena bahan bakar jenis ini rendah polusi sehingga emisi gas rumah kaca bisa terkurangi. Keunggulan tersebut dikarenakan berbagai tanaman yang digunakan untuk memproduksi biofuel berpotensi mengurangi kadar karbon dioksida di atmosfir. Dibanding bahan bakar fosil, biofuel lebih bersifat carbon neutral dan lebih sedikit meningkatkan konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfir.
Hingga saat ini, ada beberapa jenis tanaman yang popular dijadikan sebagai bahan bakar hayati. Beberapa tanaman tersebut adalah kelapa sawit (palm), jarak pagar (jatropa curcas), tebu (sugar cane)dan ubi kayu ( cassava ). Dalam pemanfaatannya, tanaman kelapa sawit dan jarak pagar banyak dimanfaatkan sebagai bio-ethanol pengganti solar. Adapun tebu dan ubi kayu, telah dimanfaatkan sebagai bio-ethanol yang digunakan sebagai pengganti BBM (gasoline). Selain itu, empat jenis tanaman tersebut juga telah banyak dimanfaatkan untuk bio-oil yang memiliki turunan bio-kerosin (pengganti minyak tanah), bio oil pertama (pengganti Automotive Diesel Oil ), dan bio- oil kedua (pengganti minyak bakar untuk industry). Bahan bakar hayati lain juga bisa diperoleh dari jamur, jerami, dan jagung.
Secara ilmiah, biofuel bisa dibuat dengan menggunakan tiga cara yaitu pembakaran limbah organic kering, fermentasi bahan baku biofuel, dan mengoptimalkan potensi energy hutan. Dari tiga cara tersebut, yang banyak dipilih adalah cara fermentasi. Fermentasi biofuel kebanyakan diperoleh dari fermentasi limbah basah (sepeti kotoran hewan dan manusia) tanpa oksigen untuk menghasilkan biogas.namun dalam jumlah yang terbatas, fermentasi biofuel juga diperoleh dari fermentasi tebu atau jagung untuk menghasilkan alcohol dan ester. Secara teori, hasil proses fermentasi biofuel sudah bisa langsung digunakan namun karena beberapa jenis mesin belum siap dengan produk hasil fermentasi seperti ester dan alcohol maka banyak pengguna biofuel yang mencampurnya dengan bahan bakan fosil.
Hingga saat ini, jumlah produksi biofuel masih kalah bila dibandingkan dengan jumlah produksi bahan bakar fosil. Hal ini dikarenakan hasil biofuel yang diperoleh tidak sama banyak dengan jumlah bahan baku yang dibutuhkan. Untuk itulah, para peneliti terus gencar melakukan berbagai penelitian untuk meningkatkan jumlah produksi biofuel sehingga kerusakan alam akibat polusi bahan bakar fosil bisa dicegah. Salah satu cara yang ditawarkan adalah dengan menambah jumlah kuantitas tanaman tanaman yang mengandung minyak nabati, pati dan gula. Sayangnya, solusi ini juga masih banyak menjadi kendala karena luas lahan yang diperlukan untuk menanam tanaman bahan baku biofuel sangat terbatas.



Powered By WizardRSS.com | Full Text RSS Feed | Amazon Wordpress | rfid blocking wallet sleeves


sumber : BAHAN BAKAR ALAMI

Baca selengkapnya di --> BAHAN BAKAR ALAMI



Share Artikel ini! »»

0 comments:

Post a Comment