Friday, 20 June 2014










Jodoh, rezeki dan ajal adalah rahasia Tuhan. Manusia seringkali tak
menyangka kapan datang dan bagaimana caranya. Naya Kumara dan Astri Ade
adalah sepasang suami istri yang tak pernah membayangkan sebelumnya
bagaimana akhirnya mereka bertemu, berjodoh dan menjalankan usaha
bersama untuk merengkuh rezeki. Kini keduanya menjalankan bisnis pakaian
dan aksesoris dengan omzet Rp 100 juta per bulan.






Pasangan suami istri yang sama-sama berusia 29 tahun ini pertama kali
bertemu pada 2009 di Hardware, butik milik artis Luna Maya. Waktu itu
Astri bekerja sebagai fashion designer di butik tersebut dan Naya sedang
menggarap proyek desain interior di butik tersebut. Dari pertemuan di
butik tersebut kemudian obrolan berlanjut ke hal-hal remeh temeh hingga
yang bersifat personal seperti tipe pasangan yang diimpikan hingga mimpi
apa yang ingin mereka raih.






Dari intensitas pertemuan tersebut ternyata banyak hal yang nyambung
di obrolan mereka dan akhirnya mereka memutuskan pacaran pada 2009. Di
masa itulah muncul obrolan tentang mimpi mereka masing-masing dan
ternyata mereka berdua ingin sama-sama mempunyai usaha sendiri.






Di saat Astri sedang bosan dengan rutinitas pekerjaan di kantornya,
Naya mengusulkan untuk resign dan membuat usaha sendiri. Dari obrolan
via telepon, hari itu juga Astri memutuskan resign dari tempatnya
bekerja. Menjalankan usaha bersama akhirnya mereka lakukan dengan
persiapan serba terbatas.






“Modal awal usaha kami yang berupa uang hanya Rp 500.000 waktu itu.
Tapi beberapa peralatan memang saya sudah punya seperti alat potong kayu
dan lainnya. Usaha kami awalnya fokus pada penjualan aksesori,” kata
Naya.






Modal yang serba terbatas membuat Naya dan Astri harus kreatif dalam
mengembangkan usaha. Salah satu yang dilakukan adalah mencari bahan baku
bekas yang bisa mereka pakai. Mereka sering memulung kayu bekas di
daerah Situ Gintung yang memang menjadi sentra perajin. Kayu-kayu
potongan bekas mebel masih bisa mereka gunakan sebagai bahan baku
aksesori yang tidak memerlukan ukuran besar.






Mereka memberi nama brand aksesori mereka Kidnapped Ally. Pilihan
nama ini untuk menggambarkan bagaimana cerita awal mereka menjalankan
usaha di mana Naya seolah-olah menculik Astri dari pekerjaannya untuk
bersekutu dan membuat usaha bersama. Sebagai pembeda dengan produk
aksesori
lain, mereka memfokuskan diri pada aksesori berbahan kayu jati.






Tak puas dengan usaha aksesori yang mereka jalankan, mereka kemudian
melebarkan sayap di bisnis apparel. Produk apparel ini yang sekarang ini
justru menjadi tulang punggung dari bisnis Kidnapped Ally. Produk
pakaian jadi mereka menyumbang pemasukan sekitar 80% dan 20% disumbang
dari produk aksesori. Dalam sebulan omzet mereka sekarang mencapai Rp
100 juta. Bahkan di bulan ramai seperti puasa omzetnya bisa berlipat
tiga kali.






“Produk pakaian kan permintaannya lebih banyak dibanding produk
aksesori. Jadi pemasukan utama dari situ. Produk pakaian kita mengikuti
selera pasar dan tren jadi lebih cepat laku. Sementara produk aksesori
memang produk idealis kita dan jumlahnya kita buat terbatas agar tetap
eksklusif,” tambah Naya.






Urusan penjualan, Kidnapped Ally melakukannya secara online dan
offline. Penjualan online menyumbang porsi lebih besar yaitu sekitar
70%. Sementara sisanya yang 30% disumbang dari penjualan offline. Khusus
untuk penjualan offline, mereka hanya bekerja sama dengan concept store
dan
tidak mau asal menjual di sembarang toko. Kesan eksklusif tetap ingin mereka pertahankan.






Naya mengaku konsumennya tak hanya berasal dari Indonesia. Beberapa
konsumen luar negeri cukup rutin memesan produk Kidnapped Ally khususnya
dari Australia, Belanda, Spanyol dan Malaysia. Naya mengaku sekarang
ini sedang menjajaki kemungkinan bekerja sama dengan concept store di
London, Inggris. Mereka sedang mematangkan klausul kerja samanya akan
seperti apa.






“Saya punya impian Kidnapped Ally akan go international. Semoga
peluang bekerja sama dengan store di London ini akan jadi pintu
pembukanya. Bila jadi, pastinya saya harus menambah karyawan,” kata






Naya berharap. Kidnapped Ally sekarang ini memiliki delapan karyawan.
Produksinya sudah lumayan besar mencapai 3.000 potong produk pakaian
dan 500 produk aksesori setiap bulannya. Sebuah jumlah yang cukup besar.
Pasangan yang menikah pada 2011 ini telah membuktikan bahwa modal
terbatas bukan penghalang dalam mengembangkan usaha. Kerja keras dan
keyakinan tak kalah penting dibanding modal uang dalam usaha yang mereka
punya. (bn/detik.com)




Powered By WizardRSS.com | Full Text RSS Feed | Amazon Wordpress | rfid blocking wallet sleeves


sumber : Suami Istri Ini Berhasil Dirikan Bisnis Dengan Omzet Rp 100 Juta per Bulan

Baca selengkapnya di --> Suami Istri Ini Berhasil Dirikan Bisnis Dengan Omzet Rp 100 Juta per Bulan



Share Artikel ini! »»

0 comments:

Post a Comment